Sabtu, 07 Juli 2012

Istri-istri Bung Karno


Bung Karno bukan hanyalah pahlwan Nasional, tapi Juga salah satu tokoh pemikir politik diindonesia. Namun demikian, bung Karno hanyalah manusia biasa yang juga punya perasaan Cinta. Salah satu kisah cinta beliau yang paling sering dijadikan sasaran tembak musuh-musuhnya, adalah banyak beliau beristri. Namun semua itu ada alasan, kenapa Bung Karno mempunyai Istri-istri yang banyak. Berikut Istri -istri Beliau :
1. Siti Oetari
Siti Oetari adalah putri sulung Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam sekaligus merupakan istri dari Presiden Indonesia pertama Soekarno. Soekarno menikahi Oetari usianya belum genap 20 tahun. Siti Oetari sendiri waktu itu berumur 16 tahun. Soekarno menikahi Oetari pada tahun 1921 di Surabaya. Sewaktu itu Soekarno menumpang di rumah HOS Tjokroaminoto ketika sedang menempuh pendidikan di sekolah lanjutan atas. Beberapa saat sesudah menikah, Bung Karno meninggalkan Surabaya, pindah ke Bandunguntuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di THS (sekarang ITB). Soekarno kemudian menceraikan Oetari.
2. Inggit Garnasih
Inggit Garnasih (lahir di Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 17 Februari 1888– meninggal di Bandung, Jawa Barat, 13 apri 1984 pada umur 96 tahun adalah istri kedua Bung Karno. Mereka menikah pada 24 maret 1923 di rumah orang tua Inggit di Jalan Javaveem, Bandung. Pernikahan mereka dikukuhkan dengan Soerat Keterangan Kawin No. 1138 tertanggal 24 Maret 1923, bermaterai 15 sen, dan berbahasa Sunda. Sekalipun bercerai tahun 1942, Inggit tetap menyimpan perasaan terhadap Soekarno, termasuk melayat saat Soekarno meninggal. Kisah cinta Inggit-Soekarno ditulis menjadi sebuah roman yang disusun Ramadhan KH yang dicetak ulang beberapa kali sampai sekarang. Beliau terlahir dengan nama Garnasih saja. Garnasih merupakan singkatan dari kesatuan kata Hegar Asih, dimana Hegar berarti segar menghidupkan dan Asih berarti kasih sayang. KataInggit yang kemudian menyertai di depan namanya berasal dari jumlah uang seringgit. Diceritakan bahwa Garnasih kecil menjadi sosok yang dikasihi teman-temannya. Begitu pula ketika ia menjadi seorang gadis, ia adalah gadis tercantik di antara teman-temannya. Diantara mereka beredar kata-kata, "Mendapatkan senyuman dari Garnasih ibarat mendapat uang seringgit." Banyak pemuda yang menaruh kasih padanya. Rasa kasih tersebut diberikan dalam bentuk uang yang rata-rata jumlahnya seringgit. Itulah awal muda sebutan "Inggit" yang kemudian menjadi nama depannya.
3.Fatmawati
Fatmawati yang bernama asli Fatimah (lahir di Bengkulu, 5 Februari 1923 meninggal di Kuala LumpurMalaysia14 Mei 1980 pada umur 57 tahun)[1] adalah istri dari Presiden Indonesia pertama Soekarno. Ia menjadi Ibu Negara Indonesia pertama dari tahun 1945 hingga tahun 1967 dan merupakan istri ke-3 dari Presiden Pertama IndonesiaSoekarno. Ia juga dikenal akan jasanya dalam menjahit BenderaPusaka Sang Saka Merah Putih yang turut dikibarkan padaupacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945.Fatmawati lahir dari pasangan Hassan Din dan Siti Chadijah.[2] Orang tuanya merupakan keturunan Puti Indrapura, salah seorang keluarga raja dari Kesultanan IndrapuraPesisir SelatanSumatera Barat.[3] Ayahnya merupakan salah seorang tokoh Muhammadiyah di Bengkulu.Pada tanggal 1 Juni 1943, Fatmawati menikah dengan Soekarno, yang kelak menjadi presiden pertama Indonesia. Dari pernikahan itu, ia dikaruniai lima orang putra dan putri, yaitu Guntur SoekarnoputraMegawati SoekarnoputriRachmawati SoekarnoputriSukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.Pada tahun 14 Mei 1980 ia meninggal dunia karena serangan jantung ketika dalam perjalanan pulang umroh dari Mekah yang lalu dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta.
5.Hartini Soekarno
Istri keempat Presiden Soekarno. Lahir di Ponorogo, 20 September 1924 dan meninggal di Jakarta 12 Maret 2002 dimakamkan di Pemakaman Karet. Ayahnya Osan, bekerja di Kehutanan dan sering berpindah-pindah kota. Setamat dari sekolah dasar di Malang, diangkat anak oleh keluarga Oesman yang tinggal di Bandung. Di kota inilah kemudian masuk Nijheidschool (Sekolah Kepandaian Putri). Di masa mudanya, ia dikenal sangat cantik, sehingga di masa sangat belia dinikahkan dengan Suwondo dan kemudian tinggal di Salatiga. Ia menjadi janda pada usia 28 tahun dengan lima orang anak. Di kota inilah, pada tahun 1952, ia pertama kali berkenalan dengan Soekarno yang rupanya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat itu Soekarno, dalam perjalanan menuju Yogyakarta untuk meresmikan Masjid Syuhada dan mampir makan siang di kota sejuk itu.
Setahun kemudian, mereka berdua bertemu kembali, saat peresmian teater terbuka Ramayana di Candi Prambanan. Melalui seorang teman, Soekarno mengirimkan sepucuk surat kepada Hartini dengan nama samaran Srihana. Dua hari setelah Guruh Soekarno Putra lahir, tanggal 15 Januari 1953, Soekarno meminta izin Fatmawati untuk menikahi Hartini. Fatmawati mengizinkan, namun kemudian menyebabkannya menuai protes dari berbagai organisasi wanita yang dimotori Perwari yang anti poligami. Soekarno dan Hartini akhirnya menikah di Istana Cipanas, 7 Juli 1953. Untuk beberapa lama ia tinggal di sana, sebelum sekitar 1964 pindah ke salah satu paviliun di Istana Bogor. Dan sejak itu, mulai secara terbuka mendampingi acara-acara kenegaraan Soekarno di Istana Bogor, antara lain menemui Ho Chi Minh, Sihanouk, Akihito dan Michiko.
Di masa tahun 1950-an, dimana dan nasionalisme dan revolusi sangat kuat mewarnai citra diri Soekarno, membuat peran Hartini di Istana Bogor sangat besar dan ia menjadi satu-satunya istri yang paling lama bisa bertemu dengan Soekarno. Kedekatannya tersebut, membuat "Carte Blanche Ibu Hartini", tentang suatu proyek sangat berharga. Janji Soekarno untuk menjadikannya sebagai istri terakhir, yang dibayarnya dengan pengabdian sebagai istri sepenuh hati kemudian terbukti dilanggar. Berturut-turut Soekarno, kemudian menikahi Ratna Sari Dewi (1961), Haryati (Mei 1963) dan Yurike Sanger (Agustus 1964). Namun demikian sejarah mencatat, Hartini telah mengisi paruh kehidupan Soekarno.
5.Ratna Sari Dewi Soekarno
Ratna Sari Dewi Soekarno (lahir dengan nama Naoko Nemoto) di Tokyo6 Februari 1940; umur 72 tahun) adalah istri ke-5 Soekarno yang merupakan Presiden Indonesia pertama. Dewi menikah dengan Soekarno pada tahun 1962 ketika berumur 19 tahun dan mempunyai anak yaitu Kartika Sari Dewi Soekarno. Dewi berkenalan dengan Soekarno lewat seorang relasi ketika Bung Karno berada di Hotel Imperial, Tokyo. Menjelang redupnya kekuasaan Soekarno, Dewi meninggalkan Indonesia. Setelah lebih sepuluh tahun bermukim di Paris, sejak 1983 Dewi kembali menetap di JakartaSetelah bercerai dengan Sukarno, Ratna Sari Dewi Soekarno kemudian pindah ke berbagai negara di Eropa termasuk SwissPerancis, dan Amerika Serikat. Pada tahun 2008 ia menetap di ShibuyaTokyo, Jepang, di mana dia tinggal di sebuah tempat yang luas dengan empat lantai dan penuh kenangan. [2]Ratna Sari Dewi Soekarno dikenal dengan kepribadiannya yang terus terang. Beliau sering disebut sebagai Dewi Fujin (デヴィ 夫人 Devi Fujin, secara harfiah "Ibu Dewi" atau "Madame Dewi"). Nama lengkapnya adalah Ratna Sari Dewi Soekarno (ラトナ サリ デヴィ スカルノ Ratona Sari Devi Sukaruno), tapi dia lebih sering disebut sebagai "Madame Dewi"
memang ada beberapa istri-istri Bung Karno lainnya, namun yang Bisa dikenal hanya 5 orang ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar